Transformasi masa depan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) tidak selalu harus berujung pada pembubaran keras atau konflik bersenjata baru. Salah satu skenario yang semakin realistis dibicarakan di kalangan pengamat adalah korporatisasi elit SDF, yakni pergeseran kekuatan dari militer ke ekonomi.
Dalam skenario ini, SDF tidak lagi berfungsi sebagai struktur militer terorganisasi, tetapi jaringan elitnya bertahan melalui kendali terhadap aset ekonomi yang tumbuh selama bertahun-tahun konflik. Negara Suriah memilih jalur pragmatis dengan mengutamakan stabilitas dan keberlanjutan ekonomi wilayah timur laut.
Integrasi keamanan dilakukan secara terbatas dan individual. Sebagian personel SDF masuk ke dalam struktur militer dan keamanan negara, sementara tokoh-tokoh kuncinya justru menarik diri dari panggung bersenjata dan masuk ke dunia usaha.
Perusahaan-perusahaan yang lahir di era kontrol SDF, seperti operator telekomunikasi lokal Rcell, logistik, konstruksi, hingga energi, menjadi pilar utama transformasi ini. Jika perusahaan-perusahaan tersebut tidak dinasionalisasi, maka statusnya berubah menjadi korporasi swasta besar yang beroperasi secara legal di bawah hukum Suriah.
Bagi Damaskus, pilihan ini menawarkan keuntungan langsung. Negara memperoleh pemasukan pajak, lapangan kerja bagi masyarakat lokal, serta kesinambungan layanan publik tanpa harus menggelontorkan investasi besar di wilayah yang baru kembali ke pangkuan pusat.
Sementara itu, elit SDF mendapatkan legitimasi hukum atas aset dan usaha mereka. Pengaruh yang sebelumnya bertumpu pada senjata dan komando lapangan kini beralih ke kepemilikan saham, kontrak, dan jaringan bisnis.
Dalam jangka menengah, proses ini melahirkan kelas pengusaha baru di wilayah Jazira, Hasakah, dan Raqqa. Mantan komandan berubah menjadi oligark regional yang memiliki pengaruh signifikan terhadap arah pembangunan lokal.
Kekuatan mereka tidak terletak pada kontrol negara, melainkan pada kemampuan memengaruhi kebijakan melalui ekonomi. Akses terhadap lapangan kerja, infrastruktur, dan layanan membuat mereka menjadi aktor yang sulit diabaikan oleh pemerintah pusat.
Di sisi keamanan, kendali senjata memang berkurang, tetapi jaringan sosial lama tidak sepenuhnya hilang. Keamanan wilayah dijaga melalui mekanisme tidak langsung, seperti satpam perusahaan, kontraktor lokal, dan kontrol sosial berbasis komunitas.
Model ini menciptakan stabilitas relatif tanpa kehadiran besar pasukan negara. Namun, pada saat yang sama, monopoli negara atas kekerasan tidak sepenuhnya terwujud, menciptakan keseimbangan yang rapuh.
Dari sudut pandang sosial, skenario ini mengurangi risiko pengangguran massal eks-kombatan. Banyak mantan anggota SDF terserap ke sektor swasta, baik sebagai pekerja maupun bagian dari rantai bisnis lokal.
Namun, ketimpangan ekonomi menjadi tantangan serius. Kekayaan dan peluang terkonsentrasi pada kelompok yang memiliki akses modal sejak masa konflik, sementara masyarakat lain berpotensi tertinggal.
Muncul pula persepsi bahwa SDF kalah secara militer, tetapi menang secara ekonomi. Narasi ini berpotensi memicu kecemburuan politik, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Tanpa regulasi yang kuat, korporatisasi elit SDF dapat berkembang menjadi feodalisme ekonomi modern. Kekuasaan tidak diwariskan melalui jabatan resmi, melainkan melalui kontrol aset dan jaringan bisnis.
Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam sejarah negara pascakonflik. Di berbagai kawasan, milisi yang dilucuti senjatanya sering kali bertransformasi menjadi aktor ekonomi dan politik yang berpengaruh.
Suriah menghadapi pilihan serupa. Menghadapi keterbatasan sumber daya dan kebutuhan stabilitas, negara bisa saja menerima keberadaan oligarki regional sebagai harga yang harus dibayar.
Dalam jangka panjang, keberhasilan skenario ini bergantung pada kemampuan negara mengatur dan mengawasi sektor swasta. Transparansi, pajak, dan hukum persaingan menjadi kunci agar kekuatan ekonomi tidak berubah menjadi ancaman politik.
Jika dikelola dengan baik, korporatisasi elit SDF dapat menjadi jembatan transisi dari konflik ke rekonstruksi. Ekonomi bergerak, senjata meredup, dan stabilitas perlahan terbentuk.
Namun jika gagal dikendalikan, skenario ini justru dapat menciptakan ketegangan baru. Bukan lagi perang bersenjata, melainkan perebutan pengaruh antara negara dan kekuatan ekonomi regional.
Masa depan SDF dalam jalur ini pada akhirnya mencerminkan pilihan besar Suriah pascaperang: antara stabilitas pragmatis hari ini dan konsolidasi negara yang utuh di masa depan.

No comments:
Post a Comment