Zulfikar Ali Bhutto menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Pakistan modern. Nama Bhutto identik dengan perjuangan politik sipil, ambisi nasional, dan nasib tragis yang berakhir di tiang gantungan. Keberaniannya dalam menghadapi tekanan internasional dan dominasinya di panggung politik domestik membuatnya menjadi simbol perlawanan bagi sebagian warga Pakistan.
Pada Desember 1971, Bhutto berada di pusat perhatian dunia saat perang India-Pakistan memasuki fase kritis. Ia mewakili Pakistan di sidang Dewan Keamanan PBB dan menghadapi rancangan resolusi yang dianggap merugikan negaranya. Dalam sidang itu, Bhutto bertindak tegas dengan merobek dokumen yang disodorkan kepadanya, sebuah aksi yang menjadi simbol protes keras terhadap tekanan internasional.
Aksi Bhutto di DK PBB ini sering dibesar-besarkan dalam narasi populer, dengan kisah yang menyebutkan konfrontasi langsung dengan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon. Faktanya, peristiwa tersebut lebih merupakan aksi simbolik terhadap seluruh Dewan Keamanan, bukan duel personal dengan Nixon. Namun keberaniannya tetap menjadi momentum penting dalam sejarah diplomasi Pakistan.
Sidang itu terjadi setelah serangan militer India pada 3 Desember 1971, yang menandai eskalasi perang dan menimbulkan kekalahan besar bagi Pakistan Timur. Bhutto menolak resolusi gencatan senjata yang diajukan, karena hal itu akan mengukuhkan kekalahan Pakistan di wilayah timur yang kemudian menjadi Bangladesh. Keputusan Bhutto menolak resolusi menunjukkan tekadnya mempertahankan posisi politik negaranya.
Dampak perang 1971 dan tekanan internasional yang menyertainya mendorong Bhutto untuk memulai langkah-langkah strategis di bidang pertahanan. Ia menyadari pentingnya memiliki kemampuan nuklir sebagai penyeimbang kekuatan regional dan simbol kedaulatan nasional. Diskusi awal mengenai program nuklir dimulai setelah perang berakhir, dan menjadi agenda prioritas pemerintah Bhutto.
Program nuklir Pakistan awalnya dipimpin oleh Munir Ahmad Khan pada awal 1970-an, dengan Bhutto sebagai penggagas visi strategisnya. Figur Abdul Qadeer Khan baru muncul sebagai tokoh sentral pada pertengahan dekade 1970-an, setelah bergabung dari Eropa. Dengan arahan Bhutto, program ini berkembang menjadi proyek rahasia yang kemudian menjadikan Pakistan sebagai kekuatan nuklir pada akhir 1990-an.
Ketegangan politik domestik terus meningkat bagi Bhutto. Meski berhasil menegakkan agenda nasional dan program nuklir, posisi politiknya mulai terancam oleh militer yang ingin mempertahankan pengaruh. Pada Juli 1977, Jenderal Muhammad Zia ul-Haq melakukan kudeta militer dan menggulingkan Bhutto dari kursi Perdana Menteri.
Setelah kudeta, Bhutto ditangkap dan menghadapi tuduhan terkait pembunuhan politik terhadap Nawab Muhammad Ahmad Khan Kasuri. Kasus ini menjadi dasar untuk proses pengadilan yang kontroversial dan banyak dikecam sebagai manipulasi hukum demi tujuan politik. Tekanan terhadap pengadilan dan saksi kunci membuat proses hukum jauh dari standar keadilan independen.
Pengadilan militer yang mengadili Bhutto berlangsung di bawah rezim darurat dan memiliki batasan hak banding yang signifikan. Banyak pengamat internasional menyebut proses ini sebagai bentuk “judicial murder”, di mana hukum digunakan untuk menyingkirkan lawan politik. Kasus ini menunjukkan bagaimana kekuasaan militer dapat memanipulasi sistem hukum demi kepentingan stabilitas rezim.
Bhutto dieksekusi pada 4 April 1979 di Penjara Rawalpindi. Ia menjadi satu-satunya Perdana Menteri Pakistan yang digantung dan menjadi simbol tragis dari konfrontasi politik sipil versus kekuatan militer. Eksekusi ini menunjukkan bahwa rivalitas politik di Pakistan bisa mencapai puncak paling ekstrim dengan mengorbankan pemimpin nasional.
Eksekusi Bhutto juga dipengaruhi oleh faktor internasional. Amerika Serikat, yang kala itu dipimpin Jimmy Carter, tidak mengambil tindakan signifikan untuk menyelamatkan Bhutto. Sikap Barat terhadap Pakistan dan ambisinya memiliki senjata nuklir memberi ruang bagi rezim militer untuk mengeksekusi Bhutto tanpa tekanan internasional yang berarti.
Tragedi Bhutto menjadi pelajaran penting bagi politik Pakistan, terutama mengenai peran militer dalam urusan sipil. Posisi dominan militer memungkinkan mereka mengatur jalannya hukum, politik, bahkan keputusan strategis nasional, termasuk dalam proyek nuklir dan program pertahanan.
Sementara itu, warisan Bhutto dalam program nuklir Pakistan tetap bertahan. Program ini menjadi salah satu pilar pertahanan nasional dan simbol kedaulatan strategis, meski lahir dari tekanan perang, embargo internasional, dan ketidakstabilan domestik.
Keberanian Bhutto di DK PBB, meski simbolik, menunjukkan tekadnya menghadapi isolasi internasional dan ancaman asing. Ia menekankan pentingnya mempertahankan martabat nasional, meski menghadapi kritik dan tekanan dari seluruh dunia.
Pemerintahan militer Zia ul-Haq selanjutnya menghapus banyak kebijakan Bhutto, tetapi program nuklir tetap berjalan di bawah pengawasan teknokrat dan ilmuwan, dengan arahan awal dari Bhutto. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan strategis bisa bertahan meski pemimpinnya disingkirkan secara paksa.
Tragedi Bhutto juga berdampak pada generasi politik berikutnya. Putrinya, Benazir Bhutto, kemudian menjadi simbol perjuangan sipil dan demokrasi di Pakistan, menekankan perlunya keseimbangan antara kekuatan sipil dan militer.
Sejarah Bhutto membuktikan bahwa konflik politik domestik, tekanan internasional, dan ambisi strategis bisa saling berkaitan. Keputusannya menghadapi Dewan Keamanan PBB, memulai program nuklir, dan menghadapi eksekusi politik menunjukkan kompleksitas kepemimpinan di negara yang terlibat perang dan tekanan geopolitik.
Relevansi peristiwa Bhutto hingga kini tetap terasa. Pakistan menjadi negara nuklir, namun sejarah politiknya dipenuhi pelajaran tentang risiko menghadapi militer dan tekanan asing secara bersamaan.
Dalam pandangan publik, Bhutto tetap dikenang sebagai pemimpin yang berani, visioner dalam program nuklir, namun menjadi korban kekuatan politik yang lebih besar. Narasi ini menggabungkan simbolisme nasionalisme dan tragedi politik, menjadikannya salah satu tokoh paling penting di Asia Selatan abad ke-20.
Akhirnya, kisah Bhutto adalah gabungan antara keberanian diplomatik, visi strategis, dan tragisnya politik internal. Ia menjadi contoh nyata bagaimana ambisi nasional dan keberanian pribadi bisa bertabrakan dengan realitas politik yang keras dan penuh tekanan domestik serta internasional.
Pakistan dan CENTO
Pada awal 1970-an, Pakistan masih menjadi anggota CENTO (Central Treaty Organization), aliansi militer yang dibentuk pada 1955 dan beranggotakan Pakistan, Turki, Iran, Inggris, dan Irak. CENTO merupakan salah satu pakta militer di Asia Selatan dan Timur Tengah yang didukung Barat untuk menahan pengaruh Uni Soviet di kawasan.
Keanggotaan Pakistan dalam CENTO berlangsung hingga 1979, meskipun organisasi ini secara faktual mulai kehilangan pengaruh setelah Inggris menarik diri pada 1971. Di masa Bhutto, Pakistan masih secara formal terikat pada pakta tersebut, walau keterlibatan aktifnya dalam operasi CENTO terbatas karena tekanan regional dan dinamika internal.
Program nuklir Pakistan secara formal dimulai setelah kekalahan dalam perang 1971 melawan India, yang mengakibatkan pecahnya Pakistan Timur menjadi Bangladesh. Peristiwa ini menjadi titik balik strategis, mendorong Bhutto untuk mengejar kemampuan nuklir sebagai simbol kedaulatan dan pencegah tekanan eksternal.
Meskipun Pakistan masih anggota CENTO saat itu, program nuklirnya tidak secara resmi terkait dengan aliansi tersebut. CENTO fokus pada pertahanan kolektif dan kerjasama militer terhadap Uni Soviet, sedangkan program nuklir Pakistan adalah proyek nasional yang dirahasiakan dan bertujuan memperkuat posisi strategis di subkontinen.
Beberapa pengamat berpendapat bahwa status Pakistan dalam CENTO memberi tekanan tambahan bagi Bhutto. Keanggotaan pakta membuat Pakistan “terikat” dengan kepentingan Barat, termasuk larangan terhadap proliferasi nuklir. Namun, Bhutto memandang nuklir sebagai alat vital untuk melindungi negara dari ancaman regional, khususnya India.
Program nuklir Pakistan awalnya dipimpin oleh Munir Ahmad Khan dan berfokus pada penelitian uranium. Sumber-sumber historis menegaskan bahwa proyek ini berjalan independen dari CENTO, meskipun aliansi itu masih ada secara formal. Bhutto menekankan bahwa program tersebut bersifat rahasia dan nasional, bukan bagian dari komitmen internasional.
Abdul Qadeer Khan baru muncul pada pertengahan 1970-an sebagai ilmuwan kunci dalam pengayaan uranium, setelah pengalaman kerjanya di Eropa. Kehadirannya menandai akselerasi program nuklir Pakistan, tetapi lagi-lagi, hal ini dilakukan di luar lingkup CENTO, karena aliansi itu tidak mendorong proliferasi nuklir anggotanya.
Sejak awal 1972 hingga pertengahan dekade 1970-an, Pakistan menjalankan proyek nuklir dengan sangat rahasia. Program ini menjadi prioritas nasional pasca-1971 dan sepenuhnya diarahkan untuk membangun kemampuan pertahanan strategis, sementara CENTO secara de facto sudah melemah dan tidak lagi menjadi pengaruh signifikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa program nuklir Pakistan dimulai saat negara itu masih secara formal anggota CENTO, namun proyek nuklir tidak terkait atau dipengaruhi langsung oleh aliansi tersebut. Program ini adalah respons domestik terhadap tekanan regional dan kekalahan militer, bukan bagian dari strategi CENTO.
Sejarah ini menegaskan bahwa keanggotaan Pakistan dalam pakta internasional tidak menghalangi langkah Bhutto untuk mengejar kapasitas nuklir nasional. Program tersebut lahir dari kebutuhan keamanan dan politik internal, sekaligus menjadi simbol kedaulatan dan ketahanan strategis Pakistan di tengah tekanan global

No comments:
Post a Comment