Suriah: Landasan Udara Al‑Shaddadi Mulai Dikosongkan? - Tanah Sari

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, January 27, 2026

Suriah: Landasan Udara Al‑Shaddadi Mulai Dikosongkan?


Infrastruktur udara di wilayah timur laut Suriah, terutama di area Al‑Shaddadi / Rmelan, menunjukkan perkembangan baru yang terkait erat dengan dinamika konflik dan kehadiran pasukan internasional dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu fasilitas yang sering disebut dalam laporan adalah Abu Hajar Airport, sebuah landasan udara yang kini digunakan bukan sebagai bandara komersial biasa tetapi sebagai pangkalan logistik militer di wilayah Hasakah. 

Sebelum perang berkepanjangan di Suriah, lokasi ini sebelumnya digunakan sebagai lapangan udara untuk transportasi pertanian, dengan penggunaan yang sangat terbatas dan bukan sebagai bandara besar. Namun, fungsi itu tidak aktif setelah sekitar 2010, ketika konflik mulai meningkat dan banyak fasilitas infrastruktur sipil tertinggal atau terbengkalai. 

Perubahan besar pada fasilitas ini mulai terlihat pada akhir 2015, ketika Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) bersama dengan pasukan Kurdi yang kemudian menjadi bagian dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) memulai pekerjaan rekonstruksi di landasan tersebut. Mereka memperpanjang dan memperkuat landasan agar bisa digunakan untuk operasi logistik, termasuk menerima pendaratan helikopter dan pesawat angkut militer. 

Upaya peningkatan itu dilaporkan melibatkan pelebaran dan perpanjangan landasan, dari sekitar 700 meter menjadi lebih dari 1.300 meter, serta penambahan fasilitas dukungan agar operasi bisa berlangsung lebih efisien. Target awalnya adalah menjadikan landasan itu bisa menopang pesawat angkut seperti Lockheed C‑130 Hercules dan helikopter angkut militer, meskipun bukan bandara tempur penuh seperti pangkalan udara besar. 

Rekonstruksi tersebut tidak berjalan di bawah otoritas Suriah secara resmi, melainkan melalui koordinasi antara pasukan lokal SDF dan militer Amerika Serikat, sebagai bagian dari operasi koalisi internasional yang dipimpin AS untuk mendukung SDF dalam perang melawan ISIS. Hal ini dilakukan tanpa izin formal dari pemerintah Damaskus, sehingga keberadaan fasilitas ini menjadi bagian dari dinamika kontroversial di wilayah timur laut Suriah. 

Aktivitas koalisi internasional di landasan tersebut juga menunjukkan bahwa lokasi itu bukan sekadar kebutuhan sementara, tetapi telah dipandang penting sebagai titik logistik dan basis udara taktis. Pada akhir 2015, beberapa helikopter militer dan tenaga ahli AS terlihat mendarat di landasan saat proses kerja konstruksi berlangsung. 

Meskipun ada laporan awal bahwa landasan akan dilengkapi untuk pesawat tempur, kemudian diputuskan bahwa pangkalan akan berfungsi lebih banyak untuk logistik dan transportasi, bukan operasi tempur langsung. Fasilitas ini memastikan koalisi dapat mengirimkan suplai, peralatan, dan dukungan bagi pasukan SDF di wilayah timur sungai Efrat. 

Perubahan status landasan ini juga tertuang dalam pengakuan SDF pada awal 2016, ketika mereka mengumumkan penyerahan kendali landasan kepada Angkatan Udara AS, meskipun kemudian Pemerintah AS menyangkal mengambil alih secara penuh. Diskusi itu mencerminkan peran landasan sebagai fasilitas yang dijalankan bersama antara militer AS dan pasukan lokal. 

Sejak saat itu, landasan di Abu Hajar Airport telah menjadi bagian dari jaringan operasi yang lebih luas di timur laut Suriah, termasuk dukungan logistik selama kampanye melawan ISIS dan, belakangan ini, fase rekonsiliasi wilayah. Landasan ini sering muncul dalam foto dan laporan pesawat militer yang mendarat membawa pasukan atau taipan logistik. 

Meskipun begitu, landasan ini tidak tercatat sebagai bandara komersial resmi dengan layanan penerbangan sipil dan tidak memiliki tanggal pembukaan formal seperti bandara internasional lainnya. Perubahan yang terjadi lebih bersifat pembaruan fungsional untuk kebutuhan militer dan logistik operasi koalisi, bukan sebagai fasilitas sipil sejak awal. 

Seiring waktu, penggunaan landasan Abu Hajar semakin intensif, terutama pada operasi logistik maupun dukungan udara ringan, mencerminkan perubahan fungsi ruang udara di wilayah yang semula tertinggal. Ini merupakan bagian dari dinamika yang lebih luas dari konflik di Suriah yang mengubah infrastruktur sipil menjadi basis militer dan logistik. 

Landasan ini juga menunjukkan bagaimana kehadiran militer asing—terutama Amerika Serikat—telah meninggalkan jejak infrastrukturnya di wilayah yang semula tidak memiliki fasilitas serupa. Meski tidak diakui secara resmi oleh pemerintah Suriah, fasilitas ini tetap menjadi titik penting dalam pengelolaan wilayah bekas konflik. 

Meski demikian, keberadaan pangkalan semacam ini tetap menjadi sumber ketegangan diplomatik antara Damaskus dan Washington, karena pemerintah Suriah melihatnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Sementara koalisi internasional menilai fasilitas tersebut penting untuk mendukung stabilitas lokal dan operasi kontra‑ISIS. 

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas ini juga dipandang sebagai titik transit untuk pasukan dan logistik dalam fase akhir kampanye militer melawan ISIS, meskipun fokusnya tetap pada suplai dan dukungan, bukan operasi tempur langsung seperti di pangkalan udara besar lainnya. 

Abu Hajar Airport telah mencerminkan bagaimana perang di Suriah telah mendorong perubahan fungsi dan penggunaan infrastruktur secara cepat, dari landasan yang sepi menjadi fasilitas penting dalam jaringan militer dan logistik yang melibatkan aktor internasional. 

Penggunaan landasan ini terus menjadi bagian dari diskusi tentang masa depan wilayah timur laut Suriah, termasuk kemungkinan transisi dari fasilitas militer ke fungsi yang lebih sipil atau integrasi kembali ke sistem pemerintahan nasional jika situasi politik memungkinkan. 

Selain Abu Hajar, wilayah Hasakah juga memiliki beberapa lapangan udara sangat dasar seperti Al‑Malikiyah Municipal Airfield yang dikelola oleh SDF untuk penerbangan ringan, tetapi tidak memiliki kapasitas besar seperti landasan yang dikembangkan di Rmelan. 

Perubahan cepat di infrastruktur udara ini menunjukkan bagaimana konflik dan intervensi asing dapat mengubah lanskap fisik dan strategis di kawasan konflik menjadi aset yang berdaya guna tinggi bagi pihak tertentu, bahkan jika itu bukan fungsi awalnya. 

Abu Hajar Airport tetap menjadi contoh nyata bagaimana pangkalan udara kecil semula yang terbengkalai dapat berubah menjadi pusat logistik penting dalam jaringan militer internasional dan lokal karena gejolak perang dan kebutuhan strategis yang berubah. 

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Pages