Sebuah video investigasi yang dirilis oleh platform EekadFacts di X mengungkap fakta mengejutkan mengenai penggunaan drone oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Video berdurasi sekitar 50 detik ini menampilkan analisis intelijen sumber terbuka yang memperlihatkan bagaimana SDF memanfaatkan teknologi drone China yang sangat maju.
Video dimulai dengan footage dramatis serangan drone terhadap kendaraan di daerah gurun. Tampak sebuah kendaraan militer yang sedang melaju tiba-tiba diserang, memicu ledakan besar dan asap tebal yang menyelimuti area sekitar. Adegan berikutnya menunjukkan puing-puing drone yang jatuh, termasuk badan drone yang rusak parah di dalam sebuah gudang atau shelter, sebagai bukti fisik penggunaan UAV dalam konflik.
Analisis mendalam dilakukan terhadap model drone yang digunakan. Salah satu model yang diidentifikasi adalah Mugin 3220, drone buatan China yang dirancang untuk misi jarak jauh. Drone ini memiliki spesifikasi impresif, termasuk jangkauan operasional yang luas dan kemampuan membawa muatan eksplosif hingga beberapa kilogram, menjadikannya senjata efektif dalam peperangan modern.
Selain Mugin 3220, video juga menyoroti model Sky Walker 5.1, yang juga berasal dari China. Drone ini dikenal dengan desain aerodinamisnya yang memungkinkan penerbangan stabil di berbagai kondisi cuaca. Muatan eksplosif yang bisa dibawa mencapai 6 kg, cukup untuk merusak kendaraan atau instalasi militer. Jangkauan operasionalnya mencapai 510 km, memungkinkan peluncuran dari jarak aman tanpa mudah terdeteksi sistem pertahanan udara.
Peta yang ditampilkan dalam video memperlihatkan lokasi serangan di wilayah Suriah, termasuk perbatasan dan zona konflik utama tempat SDF aktif beroperasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana sebuah kelompok milisi lokal bisa memperoleh teknologi drone canggih yang biasanya dimiliki oleh negara-negara besar?
EekadFacts menyimpulkan bahwa kemampuan ini melampaui kapasitas organisasi lokal, menunjukkan kemungkinan adanya dukungan eksternal, diduga dari negara seperti Uni Emirat Arab atau Iran. Latar belakang SDF sebagai aliansi yang didukung AS dalam memerangi ISIS kini menjadi lebih kompleks dengan adanya penggunaan drone ini, yang dapat mengubah dinamika konflik di Suriah.
Industri drone China telah berkembang pesat, dengan perusahaan seperti Mugin memproduksi UAV untuk keperluan sipil dan militer. Penggunaan drone canggih dalam konflik Suriah bukanlah yang pertama, tetapi skala dan tingkat kecanggihannya menunjukkan eskalasi baru dalam perang proxy di wilayah tersebut.
Metode OSINT (Open Source Intelligence) yang digunakan EekadFacts melibatkan analisis footage video, identifikasi model melalui gambar, dan pemetaan lokasi untuk membangun narasi yang solid. Dampaknya bisa memengaruhi hubungan internasional, khususnya antara AS, Turki, dan pemerintah Suriah, yang kerap menuduh SDF sebagai kelompok separatis.
Di tingkat regional, pengungkapan ini dapat memicu respons dari pasukan Suriah yang mungkin meningkatkan pertahanan udara mereka. Seruan untuk investigasi lebih lanjut muncul dari berbagai pihak, termasuk komentar di X yang menduga adanya keterlibatan aktor negara dalam penyediaan drone ini.
Kesimpulannya, video ini menekankan pentingnya transparansi dalam konflik bersenjata, di mana teknologi canggih dapat mengubah keseimbangan kekuatan secara dramatis. SDF tampak telah meningkatkan kemampuan militernya secara signifikan, mempertanyakan narasi bahwa mereka hanya kelompok milisi lokal biasa.
Drone Mugin China: Dari Ukraina Hingga Somalia
Mugin adalah seri drone sayap tetap dengan desain twin-boom buatan Mugin UAV, China. Drone ini terkenal karena penggunaannya dalam Perang Rusia-Ukraina, di mana kedua pihak memanfaatkan Mugin untuk berbagai misi, mulai dari pengintaian hingga serangan jarak jauh.
Pada November 2021, aparat keamanan Somalia berhasil menyita enam unit Mugin-2 yang diimpor dari luar negeri karena kekhawatiran akan digunakan untuk serangan bersenjata. Kejadian ini menegaskan bagaimana drone ini menarik perhatian keamanan global karena kemampuan militernya yang signifikan.
Selama invasi Rusia ke Ukraina, berbagai model Mugin digunakan secara intensif. Pada Februari 2023, tentara Ukraina menembak jatuh Mugin-4 yang membawa proyektil peledak OF-62. Pada Maret 2023, Mugin-5 Pro Rusia ditembak jatuh oleh Brigade Pertahanan Teritorial ke-111 dengan senapan AK-47. Pemeriksaan drone yang jatuh menunjukkan kemungkinan besar drone itu dimaksudkan sebagai munisi loitering, berisi sekitar 20 kg bahan peledak.
Drone Mugin juga digunakan Ukraina untuk pengintaian di wilayah yang diduduki Rusia. Mugin-5 Ukraina dilaporkan terlibat dalam serangan ke markas Armada Laut Hitam di Sevastopol pada Agustus 2022, dan diperkirakan turut digunakan dalam serangan drone ke Kremlin pada Mei 2023. Ini menunjukkan fleksibilitas drone ini dalam operasi ofensif maupun pengintaian.
Menanggapi penggunaan militernya, Mugin UAV mengeluarkan pernyataan pada Maret 2023 yang mengecam penggunaan drone untuk perang, dan menyatakan bahwa mereka telah menghentikan seluruh penjualan ke Rusia dan Ukraina. Pernyataan ini menekankan dilema industri drone sipil yang memiliki potensi digunakan untuk konflik militer.

No comments:
Post a Comment