Kamp Pengungsi Rohingya Kembali Kebakaran di Bangladesh - Tanah Sari

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Thursday, January 22, 2026

Kamp Pengungsi Rohingya Kembali Kebakaran di Bangladesh


Kebakaran besar dilaporkan terjadi pada Senin dini hari di Kamp Pengungsi Rohingya-16, Shofiullah Kata. Api dengan cepat melalap deretan tempat tinggal darurat, memicu kepanikan dan evakuasi massal warga yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Sejumlah pengungsi menyebut api mulai menyebar sebelum matahari terbit. Dalam waktu singkat, api membesar dan mengancam tenda serta barang-barang milik warga yang sudah hidup dalam keterbatasan.

Asap tebal terlihat membubung dari lokasi kamp. Para penghuni berusaha menyelamatkan diri dengan membawa apa pun yang bisa dijangkau, sementara relawan setempat mencoba membantu evakuasi darurat.

Hingga pagi hari, laporan awal menyebutkan banyak tempat tinggal rusak atau terancam hangus. Bantuan darurat sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap ribuan pengungsi di Kamp 16.

Insiden kebakaran ini kembali menyoroti rapuhnya kondisi hidup para pengungsi Rohingya. Tinggal di kamp yang padat dan minim infrastruktur keselamatan membuat setiap bencana berpotensi berubah menjadi tragedi besar.

Di tengah situasi darurat tersebut, perhatian internasional terhadap nasib Rohingya juga tertuju ke Den Haag. Pada hari yang sama, sidang terkait dugaan genosida Rohingya digelar di Mahkamah Internasional atau ICJ.

Dalam persidangan itu, junta militer Myanmar menyerang organisasi hak asasi manusia Fortify Rights secara terbuka. Serangan tersebut disampaikan langsung dalam argumen resmi mereka di hadapan hakim internasional.

Namun, junta tidak membantah temuan atau bukti yang diajukan Fortify Rights. Tidak ada sanggahan terhadap data, kesaksian korban, maupun dokumentasi pelanggaran yang disampaikan selama ini.

Sebaliknya, junta berargumen bahwa bukti tersebut seharusnya diabaikan karena Fortify Rights dianggap berpihak kepada para korban dan aktif menyelidiki kejahatan kemanusiaan. Strategi ini dinilai sebagai upaya mendiskreditkan sumber, bukan menjawab substansi.

Banyak pengamat menilai langkah tersebut sebagai gambaran nyata impunitas. Ketika sebuah rezim yang dituduh melakukan genosida menyerang pembawa pesan, bukan fakta yang disampaikan, kredibilitas pembelaan mereka justru dipertanyakan.

Fortify Rights telah mendokumentasikan kejahatan terhadap Rohingya selama lebih dari satu dekade. Temuan mereka mencakup pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran desa, dan pengusiran massal.

Laporan-laporan tersebut tidak berdiri sendiri. Temuan Fortify Rights telah diperkuat oleh badan-badan PBB, negara anggota PBB, jurnalis internasional, penyelidikan independen, serta kesaksian langsung para penyintas.

Dalam pernyataannya, Fortify Rights menegaskan bahwa kebenaran tidak bisa dihapus hanya dengan serangan verbal. Bukti yang telah dicatat berada dalam catatan publik dan menjadi bagian dari sejarah hukum internasional.

Sementara itu, kebakaran di Kamp 16 menjadi simbol penderitaan yang terus berlangsung. Bagi para pengungsi, ancaman tidak hanya datang dari masa lalu, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari yang serba rentan.

Organisasi kemanusiaan mendesak adanya bantuan segera, termasuk tempat tinggal darurat, makanan, dan layanan medis. Tanpa respons cepat, risiko korban jiwa dan krisis kemanusiaan lanjutan semakin besar.

Peristiwa ini juga memunculkan kembali seruan solidaritas global bagi Rohingya. Banyak pihak menyerukan doa, bantuan, dan tekanan internasional yang lebih kuat terhadap Myanmar.

Hubungan antara kebakaran di kamp dan sidang di ICJ dianggap mencerminkan satu benang merah. Keduanya memperlihatkan bahwa penderitaan Rohingya belum berakhir, baik di pengungsian maupun di ranah keadilan.

Bagi para penyintas, pengakuan internasional atas kejahatan yang mereka alami menjadi harapan penting. Mereka menantikan keadilan yang selama ini terasa jauh.

Sidang di ICJ dipandang sebagai momentum krusial. Dunia sedang menilai apakah hukum internasional mampu menembus tembok impunitas yang dibangun oleh kekuasaan militer.

Di tengah api yang membakar Kamp 16 dan perdebatan hukum di Den Haag, pesan yang menguat adalah satu. Kebenaran tentang Rohingya terus hidup, dan penderitaan mereka masih menuntut perhatian nyata dari dunia.

Sering terjadi

Kebakaran yang terjadi di Kamp Pengungsi Rohingya-16, Shofiullah Kata, kembali menegaskan rapuhnya kondisi tempat tinggal para pengungsi Rohingya di Bangladesh. Kamp ini terletak di Cox’s Bazar, kawasan yang menampung ratusan ribu pengungsi sejak gelombang eksodus dari Myanmar pada 2017.

Peristiwa kebakaran bukanlah hal baru di kamp-kamp Rohingya. Hampir setiap tahun, insiden serupa terjadi dan menimbulkan kerugian besar, baik berupa tempat tinggal yang hangus maupun hilangnya harta benda para pengungsi.

Struktur bangunan kamp yang sebagian besar terbuat dari bambu, kayu, dan terpal membuat api mudah menyebar. Kepadatan tempat tinggal yang tinggi mempercepat rambatan kebakaran dalam hitungan menit.

Selain itu, instalasi listrik darurat yang tidak standar kerap menjadi pemicu api. Kabel yang saling bertumpuk dan penggunaan kompor sederhana di dalam tenda memperbesar risiko kebakaran.

Kondisi geografis Cox’s Bazar yang berbukit juga menyulitkan upaya pemadaman. Akses jalan sempit membuat kendaraan pemadam kebakaran sulit menjangkau titik api dengan cepat.

Dalam banyak kasus, pengungsi hanya bisa menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang berharga. Dokumen penting, bantuan makanan, dan perlengkapan sehari-hari sering kali habis terbakar.

Organisasi kemanusiaan terus memperingatkan bahwa tanpa perbaikan infrastruktur, kebakaran akan terus berulang. Upaya pencegahan sejauh ini dinilai belum sebanding dengan besarnya risiko yang ada.

Pemerintah Bangladesh bersama lembaga internasional telah mencoba membangun jalur evakuasi dan menara pemantau. Namun, keterbatasan dana dan skala kamp yang sangat besar menjadi tantangan utama.

Bagi para pengungsi Rohingya, kebakaran menambah trauma panjang yang telah mereka alami sejak terusir dari tanah asal. Rasa aman di kamp pengungsian pun menjadi sesuatu yang sulit dirasakan.

Selama solusi jangka panjang belum ditemukan, kamp-kamp Rohingya di Bangladesh akan terus berada dalam ancaman kebakaran. Setiap insiden baru menjadi pengingat bahwa krisis Rohingya belum hanya soal politik dan hukum, tetapi juga keselamatan hidup sehari-hari.

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Pages