Di Jobar, Suriah, banyak rumah yang kini hanya tinggal reruntuhan akibat perang berkepanjangan. Bangunan yang dulunya menjadi tempat tinggal kini nyaris tidak memiliki nilai huni sama sekali. Warga yang selamat dari konflik pun menghadapi dilema: mempertahankan properti yang rusak parah atau menjualnya dengan harga murah untuk bertahan hidup.
Fenomena penjualan rumah di Jobar ini lebih banyak terkait dengan nilai tanah ketimbang bangunan itu sendiri. Para pembeli yang datang ke kawasan tersebut seringkali membeli dengan harapan mendapatkan lokasi strategis di masa depan. Bangunan yang ada biasanya sudah rusak total atau mengalami kerusakan struktural berat sehingga tidak bisa lagi digunakan sebagai tempat tinggal.
Banyak warga menyebut istilah “abkhash” untuk menjelaskan harga jual rumah di Jobar. Istilah ini merujuk pada harga yang jauh di bawah nilai pasar wajar. Warga terpaksa menjual rumah dengan harga sangat murah karena membutuhkan uang tunai untuk bertahan hidup di pengungsian. Tidak ada kepastian kapan mereka bisa kembali ke rumah mereka, sehingga menjual properti menjadi pilihan yang realistis.
Ketidakpastian dalam proses rekonstruksi turut menjadi faktor utama. Pembersihan ranjau dan pembangunan kembali kawasan hancur memakan waktu bertahun-tahun. Pemilik rumah merasa lebih aman memperoleh uang tunai sekarang daripada menunggu proyek pemerintah yang bisa memakan waktu hingga tiga hingga empat tahun.
Selain itu, pasar properti Jobar kini diwarnai oleh spekulan. Pihak-pihak yang memiliki modal membeli reruntuhan rumah dengan harga murah, berharap nilainya akan meningkat signifikan setelah wilayah tersebut dibersihkan dan dibangun kembali. Proses ini membuat tanah di kawasan Jobar menjadi komoditas utama.
Secara teknis, yang dijual memang rumah, namun hakikat transaksi ini lebih kepada hak kepemilikan tanah. Rumah yang ada seringkali sudah harus diruntuhkan atau dibangun ulang dari nol. Oleh karena itu, pembeli tidak membeli bangunan, tetapi kesempatan untuk menguasai lokasi tanah yang strategis.
Fenomena ini menyoroti realitas pasca-perang di Suriah. Banyak keluarga yang kehilangan seluruh harta benda terpaksa melepaskan properti dengan harga murah demi bertahan hidup. Pemerintah pun menghadapi tantangan besar dalam merekonstruksi wilayah yang hancur dan mengatur ulang kepemilikan tanah.
Warga yang menjual rumah berharap uang yang diperoleh dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar di pengungsian. Bagi mereka, nilai rumah tidak lagi diukur dari fungsi hunian, tetapi dari potensi ekonomi yang bisa didapatkan dari penjualan.
Sementara itu, pihak pembeli memanfaatkan ketidakpastian ini. Mereka membeli dengan harga rendah, memegang hak kepemilikan tanah, dan menunggu kesempatan untuk membangun kembali atau menjual lagi di masa depan. Strategi ini mirip dengan investasi jangka panjang, tetapi dengan risiko tinggi karena kondisi wilayah masih rawan konflik.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa pasar properti Jobar kini lebih mencerminkan spekulasi daripada kebutuhan hunian. Reruntuhan rumah yang dulunya menjadi simbol kehidupan kini menjadi komoditas ekonomi yang diperjualbelikan.
Selain spekulasi, faktor keamanan juga memengaruhi harga. Banyak rumah yang masih berada di wilayah rawan ranjau atau bahan peledak yang belum dibersihkan. Kondisi ini membuat pembeli berhati-hati dan memilih harga sangat rendah untuk mengimbangi risiko.
Tidak semua warga memiliki pilihan untuk menjual. Sebagian tetap mempertahankan rumah meskipun rusak parah, berharap suatu saat dapat kembali dan membangun rumah mereka sendiri. Namun jumlah ini relatif kecil dibandingkan mereka yang membutuhkan uang tunai segera.
Keadaan ini menunjukkan realitas pahit pasca-perang, di mana rumah dan properti tidak lagi menjadi tempat tinggal, tetapi aset yang bisa diuangkan untuk bertahan hidup. Nilai emosional rumah hampir tidak diperhitungkan, tergantikan oleh nilai ekonomi tanah.
Pemerintah Suriah telah meluncurkan beberapa proyek rekonstruksi, tetapi prosesnya lambat. Infrastruktur yang hancur, keterbatasan dana, dan masalah logistik membuat warga enggan menunggu, sehingga penjualan rumah dengan harga murah tetap terjadi.
Bagi banyak keluarga, menjual rumah adalah cara cepat untuk mengakses likuiditas. Mereka memprioritaskan kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak dibandingkan menunggu rumah dibangun kembali.
Seiring berjalannya waktu, harga tanah di Jobar diperkirakan akan meningkat setelah proyek rekonstruksi berjalan. Spekulan yang membeli sekarang berharap keuntungan signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.
Fenomena ini juga menimbulkan tantangan hukum. Banyak transaksi terjadi di wilayah yang belum sepenuhnya aman, dan kepemilikan tanah masih harus diverifikasi secara resmi. Hal ini berpotensi menimbulkan sengketa di masa depan.
Dampak sosial juga signifikan. Warga yang menjual rumah terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka, sementara pendatang atau spekulan mulai menguasai tanah yang dulunya milik komunitas lokal.
Dalam konteks ekonomi, kasus Jobar menunjukkan harga properti dapat sangat dipengaruhi oleh perang dan ketidakpastian politik. Bangunan rusak berat hampir tidak memiliki nilai, tetapi tanah tetap menjadi aset yang diminati.
Meski begitu, ada harapan bagi pemilik rumah yang tersisa. Program pemerintah dan bantuan internasional di masa depan bisa memfasilitasi rekonstruksi dan memungkinkan warga kembali menempati rumah mereka.
Akhirnya, cerita Jobar menjadi pelajaran tentang dampak panjang perang terhadap properti dan masyarakat. Nilai rumah kini bukan soal hunian, melainkan potensi tanah di tengah ketidakpastian pasca-perang.

No comments:
Post a Comment