Kehadiran militer Suriah di Raqqa dan Deir Ezzour dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya ditandai oleh pergerakan pasukan, tetapi juga oleh pemandangan yang jarang terlihat di wilayah bekas konflik. Warga sipil menyambut para prajurit dengan hidangan sederhana, senyum, dan bahkan dapur umum yang berdiri secara swadaya.
Di sejumlah lingkungan, perempuan memasak dalam panci besar sementara para pemuda mengantar roti dan air minum ke pos-pos tentara. Pemandangan ini segera menyebar di media sosial, memicu komentar luas tentang kondisi ekonomi prajurit Suriah yang dinilai sangat terbatas.
Banyak warganet menyoroti bahwa tentara Suriah tidak datang sebagai pasukan dengan fasilitas mewah atau bayaran tinggi. Sebaliknya, mereka digambarkan sebagai prajurit negara yang hidup sederhana, bahkan nyaris pas-pasan.
Kementerian Pertahanan Suriah sendiri mengumumkan bahwa proses distribusi gaji militer tengah berjalan dengan nilai berkisar antara 200 hingga 250 dolar AS per bulan untuk prajurit dan bintara. Sementara itu, perwira menerima sekitar 300 dolar AS per bulan.
Jika dikonversikan ke mata uang Indonesia, angka tersebut setara dengan sekitar Rp3,1 juta hingga Rp4 juta per bulan untuk prajurit, dan sekitar Rp4,6 juta hingga Rp4,8 juta untuk perwira, tergantung nilai tukar yang berlaku.
Angka ini dianggap rendah, terutama jika dibandingkan dengan risiko tugas di wilayah yang baru keluar dari konflik bersenjata panjang. Para prajurit menghadapi ancaman keamanan, beban psikologis, dan kondisi logistik yang belum sepenuhnya pulih.
Kondisi tersebut tampaknya disadari betul oleh warga Raqqa dan Deir Ezzour. Banyak dari mereka melihat tentara bukan sebagai kekuatan asing, melainkan sebagai bagian dari rakyat yang sama-sama menanggung dampak perang.
Sejumlah warga mengaku tergerak ketika mengetahui bahwa gaji tentara tidak sebanding dengan pengorbanan mereka. Dari situlah muncul inisiatif kolektif untuk menyediakan makanan, teh panas, dan tempat singgah sementara.
Dapur umum yang berdiri bukan atas instruksi negara, melainkan murni inisiatif masyarakat. Ini menjadi simbol solidaritas yang tumbuh setelah bertahun-tahun kecurigaan dan keterpisahan akibat konflik.
Bagi sebagian warga, menjamu tentara adalah bentuk terima kasih karena wilayah mereka kembali relatif aman. Bagi yang lain, itu adalah empati terhadap sesama warga Suriah yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari dinamika pascaperang. Di balik narasi politik dan militer, ada interaksi manusiawi yang membangun kembali kepercayaan secara perlahan.
Para prajurit sendiri terlihat menerima jamuan itu dengan rendah hati. Banyak yang tampak enggan, namun akhirnya menerima sebagai bentuk penghormatan dari warga setempat.
Di tengah keterbatasan gaji, banyak tentara masih menanggung beban keluarga. Sebagian di antaranya adalah eks pengungsi yang rumahnya hancur dan belum sepenuhnya dibangun kembali.
Dengan penghasilan sekitar beberapa juta rupiah per bulan, kebutuhan dasar sering kali menjadi tantangan. Terlebih bagi mereka yang harus mengirim sebagian gaji untuk keluarga di kamp pengungsian atau daerah terpencil.
Kondisi inilah yang membuat simpati publik semakin kuat. Warga menyadari bahwa stabilitas yang mereka rasakan hari ini datang dari pengorbanan orang-orang yang secara ekonomi tidak diuntungkan.
Di Raqqa dan Deir Ezzour, sambutan hangat itu menjadi pesan tersendiri. Tentara diterima bukan karena kekuatan senjata, melainkan karena kesamaan nasib sebagai korban perang panjang.
Pengamat menilai, solidaritas semacam ini berpotensi menjadi fondasi rekonsiliasi sosial. Kepercayaan tidak dibangun melalui perintah, melainkan melalui empati dan pengalaman langsung.
Gaji tentara yang rendah justru membuka mata banyak pihak tentang realitas militer Suriah. Mereka bukan mesin perang yang dingin, tetapi manusia dengan keterbatasan dan harapan sederhana.
Dalam situasi ekonomi Suriah yang masih berat, angka 200 hingga 300 dolar AS memang jauh dari ideal. Namun bagi para prajurit, itu adalah satu-satunya penopang di tengah ketidakpastian.
Sementara negara berupaya memulihkan institusi dan wilayah, warga di lapangan mengambil peran kecil namun berarti. Sepiring makanan hangat menjadi bentuk dukungan yang nyata.
Pada akhirnya, kisah dapur umum di Raqqa dan Deir Ezzour bukan sekadar soal gaji rendah. Ia mencerminkan pertemuan antara pengorbanan tentara dan kesadaran warga, sebuah potret kemanusiaan di tengah puing-puing perang.

No comments:
Post a Comment