Perang Rusia–Ukraina sejak 2022 terus berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang menimbulkan perdebatan tajam: apakah Moskow benar-benar dijebak oleh lingkungan geopolitik global, atau justru terjebak oleh keputusannya sendiri. Pertanyaan serupa juga muncul dalam konflik lain, seperti Suriah dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Sudan dengan perang antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF).
Dalam kasus Rusia, narasi “dijebak” sering dikaitkan dengan ekspansi NATO ke Eropa Timur dan pergeseran Ukraina ke orbit Barat. Moskow melihat situasi ini sebagai ancaman eksistensial, yang pada akhirnya mendorong keputusan militer berskala penuh. Namun, keputusan itu diambil secara sadar oleh Kremlin, bukan sebagai respons atas serangan langsung.
Setelah invasi dimulai, Rusia justru terperangkap dalam konflik yang jauh lebih panjang dan mahal dari perkiraan awal. Dukungan militer Barat kepada Ukraina, sanksi ekonomi, serta ketahanan politik Kyiv membuat perang berubah menjadi ajang pengurasan sumber daya Rusia. Pada titik ini, unsur “terjebak” menjadi lebih nyata dibandingkan “dijebak”.
Situasi yang mirip, meski dengan konteks berbeda, terlihat di Suriah. Pemerintah Damaskus di bawah Presiden Ahmed Al Sharaa sejak lengsernya rejim Assad berupaya memulihkan kedaulatan nasional, termasuk di wilayah timur laut yang kini dikuasai SDF. Namun, keberadaan pasukan AS dan dinamika lokal membuat konflik dengan SDF tidak pernah berkembang menjadi sebuah perdamaian penuh sebagaimana yang disepakati.
Suriah tidak sepenuhnya dijebak untuk berkonflik dengan SDF, tetapi juga sulit keluar dari situasi tersebut. Setiap upaya militer berisiko memicu eskalasi internasional, sementara pembiaran justru memperkuat realitas fragmentasi wilayah. Akibatnya, Damaskus terjebak dalam konflik yang menggerogoti kedaulatan negara.
Di Sudan, perang antara SAF dan RSF menunjukkan pola yang lebih brutal dan terbuka. Konflik yang awalnya dipicu perebutan kekuasaan internal dengan cepat berubah menjadi perang panjang yang menghancurkan negara. Tidak ada aktor eksternal tunggal yang secara jelas “menjebak” Sudan, tetapi kepentingan regional dan internasional memperpanjang konflik.
SAF dan RSF sama-sama mengira perang akan singkat. Kesalahan kalkulasi ini membuat kedua pihak terjebak dalam spiral kekerasan yang sulit dihentikan. Berbeda dengan Rusia dan Suriah, Sudan menghadapi kehancuran institusi negara secara langsung, bukan sekadar kebuntuan geopolitik.
Persamaan utama dari ketiga kasus ini terletak pada kesalahan asumsi awal. Rusia, Suriah, dan Sudan sama-sama memperkirakan konflik dapat dikendalikan atau diselesaikan cepat. Ketika asumsi itu runtuh, perang berubah menjadi beban struktural yang sulit ditinggalkan.
Persamaan lain adalah peran aktor eksternal. Di Ukraina, Barat memperkuat daya tahan Kyiv; di Suriah, AS dan sekutunya menopang SDF; di Sudan, dukungan regional yang terselubung membuat RSF dan SAF terus bertahan. Dukungan ini tidak selalu dimaksudkan sebagai jebakan, tetapi dampaknya memperpanjang konflik.
Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam motif awal. Rusia memasuki perang dengan dalih keamanan strategis global, Suriah mempertahankan kedaulatan negara, sementara Sudan terjerumus dalam konflik elite internal. Ini membuat legitimasi dan dinamika ketiganya sangat berbeda.
Perbedaan lain terletak pada kapasitas negara. Rusia masih memiliki sumber daya ekonomi, militer, dan diplomatik untuk bertahan dalam perang panjang. Suriah bertahan lebih melalui diplomasi, aliansi regional, dan konflik berintensitas rendah. Sudan, sebaliknya, mengalami keruntuhan kapasitas negara secara cepat.
Dalam konteks “dijebak”, Rusia paling sering disebut sebagai korban strategi jangka panjang Barat. Namun, bukti konkret adanya skema tunggal untuk memancing invasi tetap lemah. Yang lebih terlihat adalah pemanfaatan situasi oleh pihak lain setelah perang terjadi.
Suriah hampir tidak bisa disebut dijebak. Konflik dengan SDF adalah konsekuensi langsung dari perang saudara dan intervensi asing sejak 2014. Pemerintah Suriah lebih tepat disebut terjebak dalam realitas geopolitik yang tidak menguntungkan.
Sudan pun sulit disebut dijebak oleh pihak luar. Konflik SAF–RSF lebih merupakan ledakan kontradiksi internal yang kemudian dimanfaatkan oleh kepentingan eksternal, bukan dirancang dari luar sejak awal.
Meski demikian, ketiganya menunjukkan pola sama: perang panjang sering kali bukan hasil rencana matang, melainkan akumulasi keputusan keliru dan ketidakmampuan keluar dari konflik tanpa kehilangan legitimasi. Mundur berarti kalah, maju berarti biaya terus membengkak.
Dalam perang Rusia–Ukraina, Suriah–SDF, dan Sudan–RSF, istilah “jebakan” lebih tepat dipahami sebagai kondisi struktural, bukan konspirasi tunggal. Negara atau aktor bersenjata masuk ke konflik dengan pilihan sendiri, lalu terperangkap oleh dinamika yang lebih besar.
Konflik berkepanjangan ini juga menunjukkan bahwa perang modern jarang berakhir cepat. Keterlibatan aktor eksternal, perang proksi, dan tekanan ekonomi membuat konflik menjadi alat penyeimbang kekuatan global.
Bagi Rusia, perang Ukraina telah mengubah posisi globalnya. Bagi Suriah, konflik dengan SDF menghambat rekonstruksi nasional. Bagi Sudan, perang SAF–RSF mengancam eksistensi negara itu sendiri.
Ketiganya memperlihatkan bahwa dalam geopolitik modern, jebakan terbesar sering kali bukan berasal dari lawan, melainkan dari keyakinan berlebihan terhadap kekuatan sendiri. Kesalahan membaca situasi awal menjadi pintu masuk perang panjang.
Dengan demikian, Rusia, Suriah, dan Sudan tidak sepenuhnya dijebak, tetapi jelas terjebak. Perang panjang yang mereka hadapi adalah hasil pertemuan antara pilihan politik, tekanan eksternal, dan realitas geopolitik yang tak terkendali.
Pada akhirnya, pelajaran paling jelas dari ketiga konflik ini adalah bahwa memasuki perang mungkin pilihan politik, tetapi keluar darinya sering kali menjadi kemewahan yang tidak dimiliki negara mana pun.

No comments:
Post a Comment